Get Adobe Flash player

Sekilas Sejarah Yayasan Ta’allumul Huda

Pada tahun 1915 H.O.S. Cokro Aminoto datang ke Bumiayu mendirikan Syarikat Islam ( S.I ) atas kehendak sendiri menuju ke Bumiayu, Benda (Sirampog) selanjutnya diteruskan ke Kebarongan dan H.O.S. Cokro Aminoto meresmikan Pondok Pesantren di Kebarongan yang di pimpin oleh KH. Nasifudin.

KH. Mahful bekerja sama dengan Bapak Parjo, pegawai pegadaian Bumiayu yang sebelumnya Bapak Parjo mengajarkan huruf/abjad latin kepada 10 anak. Pendekatan KH. Mahful dengan Bapak Parjo untuk mendirikan Madrasah yang berstandar memakai sarana meja, kursi (padung), dan papan tulis terlaksana.

Berdirinya Madrasah tersebut pada tahun 1915 H. Chamami Syueb mendapatkan keterangan / informasi Madrasah berdiri tahun 1915 dari KH. Abdul Mufti dan Kyai Mahwan. Berdirinya Madrasah Ta’allumul Huda Kyai Mahwan berumur + 14 tahun. Kyai Mahwan menceritakan/menginformasikan pada tahun 1915 selesai dibangun Jembatan Sakalimalas Kali Keruh yaitu bertemunya pembangunan rel kereta api dari Talok arah barat dengan rel kereta api dari Adisana arah timur.

Ali Marfadi dan Minfari (keturunan Arab) ikut mendirikan Syarikat Islam ( S.I ) di Bumiayu. Pendiri-pendiri Madrasah yang memberi nama TA’ALLUMUL HUDA lama kelamaan mendiskusikan nama tersebut maka muncul orang yang mengerti Bahasa Arab, Nahwu mengkritisi TA’ALLUMUL HUDA.

TA’ALLUMUL artinya Mempelajari  (kata kerja)

HUDA  artinya Petunjuk (kata benda)

Dalam tata bahasa Arab kata kerja bertemu dengan kata benda tidak lazim.

Tahun   1915   kegiatan   belajar   mengajar   Madrasah   Ta’allumul   Huda   menempati   rumah H. Abdul Ghoni Krajan, pindah ke Tan Wee Lay, terakhir di rumah KH. Rifai Dukuhturi Pengempon.

Tahun 1916 Ta’allumul Huda kedatangan Ustadz Usman dari Sukabumi dan tahun 1917 kedatangan Ustadz Usman (Pakistan Utara) dari Pekalongan. Ustadz Usman dari Pekalongan diangkat menjadi Ustadz Ta’allumul Huda oleh KH. Mahful dari tahun 1917 sampai dengan tahun 1922.

Sejak kedatangan Ustadz Usman dari Pekalongan, kegiatan belajar mengajar Ta’allumul Huda sangat teratur dari kelas satu sudah diajari cara belajar siswa aktif khususnya Bahasa Arab.

Pengurus Nasionalis Kemal Pasya (Turki) ke Indonesia Madrasah Ta’allumul Huda murid-muridnya memakai Torbus dan dibimbing dan diawasi oleh Ustadz Isman (Pekalongan). Mengetahui murid-murid memakai torbus, Pemerintah Hindia Belanda di Bumiayu marah dan membakar torbus-torbus itu. Terjadi perbedaan pendapat antara KH. Nasuha, KH. Abdul Kahfi di satu pihak yang menginginkan nama Madrsah MA’AHIDUL HUDA dengan Ustadz Zubair dan teman-temanya di lain pihak.

Tahun 1933, Pemerintah Hindia Belanda terjadi kebangkrutan negara (malaise). Murid Madrasah menyanyikan lagu kebangsaan Belanda (sanjungan Ratu Whilhemina) dengan ucapan Bahasa Arab maka kagumlah Belanda-Belanda di Bumiayu.

Tahun 1942, Pengurus Ta’allumul Huda mengundang Ustadz Amrozi dari Yogyakarta untuk mengajar mata pelajaran Umum dan Bahasa Jepang, dan mengangkat Bapak Marzuki Mukhit (Dep. Penerangan) mengajar Bahasa Indonesia.

Tahun 1945, Revolusi Kemerdekaan. Selain Sekolah Rakyat Islam (SRI) kegiatan belajar mengajar di pagi hari mengikuti kurikulum Pemerintah, sedang Madrasah Diniyah tetap berjalan di waktu sore hari dengan mata pelajaran Agama dan Bahasa Arab.

Pada tahun tersebut KH.Mahfud mengirim dua putranya yaitu Ustadz Ali dan Ustadz Abdul Mufti untuk disekolahkan di HADRALMAUT SCHOOL Surabaya sampai tamam.

Tahun 1947 : Agresi Belanda I

Tahun 1948 : Agresi Belanda II

Tahun 1947 1948 agresi/penyerangan Belanda ke Pemerintah Republik Indonesia. Orang-orang Bumiayu seluruhnya mengungsi dan sekolah/SRI-Diniyah tutup. Selama dua tahun wailayah Bumiayu dikuasai Belanda. Pada saat turun gunung kembali ke Bumiayu sekolah/madrasah dibangun kembali mencari murid-murid untuk bersekolah.

Madrasah Diniyah menyanyikan lagu kebangsaan Belanda (sanjungan Ratu Whilhemina) tentara Belanda kagum melihatnya.

S.D.I  sebagai  kelanjutan  dari  SRI menempati tanah wakaf H. Matsani dan SMI didrikan 1953 oleh tokoh-tokoh MASYUMI, baru menempati gedung tahun 1955 tanah wakaf dari H. Djamali.

Salah satu kegiatan dari madrasah ini adalah mengadakan kegiatan kepanduan (Pandu “SIAP”) dan menciptakan nyanyian-nyanyian (“NAGHEM”) yang menggelorakan semangat nasionalisme melawan penjajahan Belanda dan bertemakan kemajuan.

Gambar  1 : Kepanduan “SIAP” Madrasah Ibtidaiyah Ta’allumul Huda Bumiayu, Tahun 1940

Pada tahun 1953, pengurus perguruan membuka sekolah menengah (SMP) sebagai kelanjutan Sekolah Rakyat (SD), yang masih menempati di gedung SR Islam. Untuk itu pada tahun 1955 pengurus mendirikan gedung baru yaitu SMP Islam di atas tanah wakaf Bapak Haji Djamali, yang sekarang gedung SMP Islam sisi timur.

Gambar 2 : Pembangunan Gedung SMP Islam Bumiayu, 14 Juli 1955

 

Keluarga Besar YWPTHB

Laporan Yuk...

Kalender

Keluarga Besar